This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions..

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions..

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions..

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions..

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions..

Sabtu, 10 November 2012

JIWA MUSLIM



Aktivitas Berfikir Seorang Muslim

Manusia dibekali pikiran dan perasaan agar senantiasa berfikir positif (husnudzan) dengan otaknya dan mengisi perasaannya dengan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Seringkali manusia terjebak dengan pemikiran-pemikiran negatif dengan banyaknya berprasangka buruk antar manusia bahkan prasangka buruk terhadap Allah SWT Naudzubillah.
Agar manusia dapat merasakan kebahagiaan kehidupan di dunia dan akhirat maka diharuskan mengisi qalbunya dengan beriman dan bertakwa kepada Allah SWT. Selain itu manusia juga diharuskan berfikir positif dengan otaknya agar kehidupannya menjadi lebih produktif.
            Berfikir positif dan berperasaan positif merupakan kebutuhan manusia agar dirinya dapat merasakan kenikmatan yang dikaruniakan oleh Allah SWT. Makalah ini akan mengupas tentang aktivitas berpikir seorang muslim. Semoga bermanfaat.
Ø Hadits Pilihan Tentang Cara Berpikir Positif
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : المُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ،  وَفِيْ كُلٍّ خَيْرٌ اِحْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللهِ، وَلاَ تَعْجَزْوَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلاَ تَقُلْ : لَوْ أَنِّيْ فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ : " قَدَّرَ اللهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَ "، فَإِنَّ " لَوْ " تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ (أَخْرَجَهُ الإِمَامُ مُسْلِم 8/ 56 )
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu beliau mengatakan: Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: “Orang beriman yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah dari- pada orang mu’min yang lemah. Dan masing-masing punya kebaikan. Bersungguh-sungguhlah dalam segala hal yang bermanfaat bagimu. Mintalah bantuan kepada Allah dan jangan merasa lemah (pesimis) dan jika kamu mendapat satu musibah (kesulitan), jangan berkata: “sekiranya saya melakukan ini, maka akan terjadi seperti ini “Tapi katakanlah: “Sesungguhnya Allah telah menentukan (keputusan-Nya) dan Dia melakukan apa yang Dia kehendaki “. Oleh karena ucapan “sekiranya” itu membuka peluang kerja bagi syetan “Hadits Shahih Diriwayatkan oleh Imam Muslim: 8/56
Berpikir adalah pekerjaan kita sehari-hari. Namun sayangnya, kebanyakan manusia hanya menggunakan sedikit sekali potensi berpikir. Padahal berpikir adalah kunci menuju sukses dan kebahagiaan. Bahkan, masih banyak orang yang belum mengerti proses berpikir tersebut. Dalam Al Quran, ada banyak kata yang kita artikan berpikir. Mengapa banyak? Karena memang masing-masing memiliki makna dan proses yang berbeda. Sejauh mana kita mengetahui cara berpikir? Jika caranya saja kita belum mengerti, bagaimana kita bisa melakukannya? Dan, kenapa harus report memikirkan tentang berpikir?
Berpikir adalah menghadirkan dua pengetahuan untuk mendapatkan pengetahuan ketiga. Disebut tafakkur karena dalam semua proses itu menggunakan dan menghadirkan pikiran. Namun, berpikir tidak hanya disebut dengan istilah tafakur saja, masih ada istilah lain yang perlu kita fahami masing-masing agar kita mampu berpikir lebih baik dan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi kita.
·         Berfikir disebut tadzakkur karena menghadirkan ilmu yang harus diingat-ingat setelah terlupa dan hilang.
·         Disebut nadhor karena melihat dengan mata hati pada hal yang dipikirkan.
·         Adapun disebut ta’ammul karena mengulang-ulang pikiran sampai terlihat jelas dan terbuka bagi hatinya.
·         Sementara itu, disebut i’tibar (wazan ifti’al dari kata ‘ubur yang berarti menyeberangi) karena dia menyeberang dari suatu hal ke hal yang lain; dia menyeberang dari hal yang dipikirkannya menuju ke pengetahuan ketiga. Yang disebut dengan pengetahuan ketiga ini adalah tujuan dalam i’tibar itu.
·         Oleh karenanya, hal itu pun disebut sebagai ‘ibrah. Kata Ibrah mengikuti wazan isim haal seperti kata jalsah, rikbah dan qitlah. Ini untuk menunjukkan bahwa ilmu dan pengetahuan telah menjadi haal (karakter) bagi pemiliknya.
·         Disebut tadabbur karena merupakan perenungan tentang akibat dan akhir suatu perkara.Jadi, arti mentadaburi suatu kalimat adalah memikirkannya dari bagian awal sampai akhir, kemudian mengulang-ulangi perenungannya. Oleh karena itu, bentuknya mengikuti wazan tafaa’ul, seperti tajarru’, tafahhum, dan tabayyun.
·         Dan disebut istibshar, wazan istif’al dari kata tabasshur yang berarti jelas dan tersingkapnya sesuatu hal di depan bashirah (mata hati).
Baik tadzakkur maupun tafakkur punya faedah masing-masing. Tadzakkur berarti hati mengulang-ulang apa yang diketahuinya agar tertanam dengan kuat di dalamnya, sehingga tidak terhapus dan pudar dari dalam hati secara keseluruhan. Adapun tafakur berarti memperbanyak ilmu dan mencari apa yang belum ada di hati. Jadi tafakur itu gunanya mencari ilmu dan tadzakkur berguna untuk menjaganya.
Jadi, tafakkur dan tadzakkur adalah benih ilmu. Saling bertanya adalah siramannya, dan mudzakarah adalah pembuahannya.
Kebaikan dan kebahagiaan itu tersimpan di dalam sebuah gudang, kuncinya adalah tafakkur. Jadi harus ada tafakkur dan ilmu. Apabila dari proses itu kemudian hati memperoleh ilmu, maka setiap orang yang melakukan suatu hal yang baik atau buruk pasti ada satu kondisi di hatinya yang terwarnai oleh ilmunya. Kondisi itu melahirkan iradah (kehendak), dan iradah melahirkan amal.
Sampai di sini ada lima hal:
1.      berpikir,
2.      buahnya, yaitu ilmu,
3.      buah dari keduanya, yaitu keadaan yang terwujud bagi hati,
4.      buah yang ditimbulkannya, yaitu iradah, dan
5.      buah iradah, yaitu amal.
Dengan demikian, ilmu adalah titik permulaan dan kunci segala kebaikan.
Hal ini tentu membuktikan keutamaan dan kemuliaan tafakkur. Hal itu juga membuktikan bahwa tafakkur tergolong amal hati yang paling utama dan paling bermanfaat bagi hati itu sendiri; sampai dikatakan, “Tafakkur sesaat lebih baik dari ibadah setahun.” Hanya berpikir yang dapat mengubah seseorang dari matinya kecerdasan kepada hidupnya kesadaran, dari kebencian kepada cinta, dari rakus dan tamak menjadi zuhud dan qana’ah, dari penjara dunia ke cakrawala akhirat, dari sempitnya kebodohan ke lapangnya ilmu, dari penyakit syahwat dan cinta kehidupan fana ini ke sehatnya taobat kepada Allah dan mengesampingkan dunia, dari musibah buta, tuli, dan bisu ke nikmat melihat, mendengar, dan paham tentang Allah. Juga dari penyakit-penyakit syubhat (keraguan) ke sejuknya keyakinan dan tenteramnya dada.

Jika pun hidup kita berjalan tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Yakinlah hari-hari kemudian akan lebih baik dari hari-hari sekarang dan hari-hari yang telah lalu.
وَلَلْآخِرَةُ خَيْرٌ لَكَ مِنَ الْأُولَىٰ
“Dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan)”
Berprasangka baiklah Allah SWT akan memberikan karunia dan rahmat yang besar di hari-hari esok, dan jangan berputus asa!
اِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْفَأَلَ و يَكْرَهُ التَّسَاؤُم
“Sesungguhnya Allah mencintai sikap optimis dan membenci sikap putus asa” (Hadits)
Kalaupun sepanjang hidup kita di dunia selalu dalam kesulitan dan kesempitan, kita tetap berpikir positif bahwa kelimpahan dan kenikmatan akan Allah berikan kepada kita di Hari Akhirat. Maka orang yang bisa berpikir positif seperti itu, tetap tersenyum bahagia dalam menjalankan kehidupan sulitnya di dunia.
وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَىٰ
“Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas”
Optimis dan yakin berjumpa Allah di hari Akhir nanti dan mendapatkan limpahan karunia-Nya yang tak terkira, sungguh akan memuaskan hati kita. Karunia Allah kepada penduduk dunia seperti air menetes dari jari yang dicelupkan ke lautan, dibandingkan karunia Allah di hari Akhirat yang seluas lautan itu sendiri.
Bagaimana agar kita selalu berpikir positif? Ingatlah semua nikmat-nikmat Allah yang jika kita hitung tentu tidak akan sanggup.
أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَآوَىٰ, وَوَجَدَكَ ضَالًّا فَهَدَىٰ, وَوَجَدَكَ عَائِلًا فَأَغْنَى
“Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu? Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk? Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan?”

Ø  BERFIKIR POSITIF
Pertanyaan yang sangat mendasar adalah: mengapa Islam sampai menekankan pentingnya khusnudzdzan dan berpikir positif? Paling tidak, ada empat alasan yang bisa dikemukakan di sini.
Pertama, kita harus khusnudzdzan dan berpikir positif karena ternyata orang lain seringkali tidak seburuk yang kita kira. Contoh terbaik mengenai hal ini ialah kisah Nabi Khidhir dan Nabi Musa Alaihima As-Salam. Suatu kali, Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan Nabi Musa untuk menambah ilmu dari seseorang yang sedang berdiri di tepi pantai yang mempertemukan dua arus laut.
Setelah mencari tempat yang dimaksud, di situ beliau menemukan Nabi Khidhir, dan kemudian mengutarakan maksudnya. Nabi Khidhir mau menerima dengan satu syarat; Nabi Musa tidak boleh grasa-grusu bertanya sampai Nabi Khidhir menjelaskan.
"Tapi aku yakin, kamu tidak akan bisa bersabar", tambah Nabi Khidhir lagi. Namun karena Nabi Musa bersikeras, akhirnya dimulailah perjalanan beliau berdua berdasarkan syarat tadi. Ternyata benar!!
Ketika dalam perjalanan itu Nabi Khidhir melakonkan hikmah demi hikmah yang telah diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala, tak sekalipun Nabi Musa mampu bersabar untuk tidak grasa-grusu menafsirkan yang bukan-bukan. (Qs. Al-Kahfi: 60-82).
Dalam kisah Qur'ani ini, poin penting yang dapat dipetik: kita harus selalu berbaik sangka dan berpikir positif terhadap orang lain. Karena, bisa jadi, orang lain tidaklah seburuk yang kita kira. Sebab kita hanya bisa melihat apa yang tampak, namun tidak tahu niat baik apa yang ada di hatinya…dan seterusnya.
Kedua, berbaik sangka dan berpikir positif dapat mengubah suatu keburukan menjadi kebaikan. Kita dapat menemukan pembuktiannya dalam teladan Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam, ketika seluruh kafilah- afilah Arab berkumpul di Makkah pada tahun-tahun pertama turunnya wahyu. Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan Rasulullah untuk menyampaikan risalah Islam kepada semua kafilah itu. Namun yang terjadi, mereka justru mencaci dan menyakiti Rasulullah, serta melumuri wajah beliau dengan pasir.
Saat itu, datanglah malaikat ke hadapan Rasulullah, "Wahai Muhammad, (dengan perlakuan mereka ini) sudah sepantasnya jika kamu berdoa kepada Allah agar membinasakan mereka seperti doa Nuh a.s atas kaumnya." \Rasulullah segera mengangkat tangan beliau.
Tetapi yang terucap dalam doa beliau bukanlah doa kutukan, melainkan untaian maaf dan harapan bagi orang-orang yang telah menyakitinya, "Ya Allah, berilah petunjuk kepada kaumku. Sesungguhnya (mereka melakukan semua ini terhadapku) hanya karena mereka tidak tahu. Ya Allah, tolonglah aku agar mereka bisa menyambut ajakan untuk taat kepada-Mu." ("Al-Ahadits Al-Mukhtarah, karya Abu `Abdillah Al-Maqdasi, 10/14).
Pilihan beliau ternyata tidak salah. Tak lama setelah peristiwa tersebut, mereka yang pernah menyakiti beliau berangsur-angsur memeluk Islam dan menjadi Sahabat yang paling setia. Ini sesuai dengan ajaran Al-Qur'an, "Tanggapilah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dengan dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat akrab." (Qs. Al-Fushilat: 34)
Ketiga, berbaik sangka dan berpikir positif dapat menyelamatkan hati dan hidup kita. Sebab hati yang bersih adalah hati yang tidak menyimpan kebencian. Hati yang tenteram adalah hati yang tidak memendam syakwasangka dan apriori terhadap orang lain. Dan hati yang berseri-seri hanyalah hati yang selalu berpikir positif bagi dirinya maupun orang lain.
Kebencian, berburuk sangka dan berpikir negatif hanya akan meracuni hati kita. Sebab itulah, ketika Orang-orang Yahudi mengumpat Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam yang sedang duduk santai bersama Aisyah Radhiyallahu `Anha, dan Aisyah terpancing dengan balas menyumpahi mereka; Rasulullah segera Mengingatkan Aisyah, "Kamu tidak perlu begitu, karena sesungguhnya Allah menyukai kesantunan dan kelemah-lembutan dalam segala hal." (Riwayat Al- Bukhari dan Muslim, dari Aisyah Ra.). Subhanallah!! Beliau yang seorang utusan Allah dan pemimpin masyarakat muslim, yang sebenarnya bisa dengan mudah membalas perlakuan Orang-orang Yahudi itu, ternyata memilih untuk tetap santun dan berpikir positif agar menjadi teladan bagi seluruh umat manusia.
Senada dengan hadits di atas, ada ungkapan yang sangat menggugah dari seorang sufi: "Yang paling penting adalah bagaimana kita selalu baik kepada semua orang. Kalau kemudian ada orang yang tidak baik kepada kita, itu bukan urusan kita, tapi urusan orang itu dengan Allah Subhanahu wa Ta'ala."
Keempat, berpikir positif bisa membuat hidup kita lebih legowo, karena toh Allah Subhanahu wa Ta'ala seringkali menyiapkan rencana- rencana yang mengejutkan bagi hambaNya. Suatu saat, Umar bin Khaththab Radhiyallahu `Anhu dirundung kegalauan yang menyesakkan. Salah seorang puteri beliau, Hafshah Radhiyallahu `Anha, baru saja menjanda. Maka Umar datang menemui Abu Bakar menawarinya agar mau menikahi Hafshah. Ternyata Abu Bakar menolak. Kemudian Umar menawari Utsman bin Affan Radhiyallahu `Anhu untuk menikahi Hafshah, namun Utsman pun menolaknya. (Shahih Al-Bukhari, 4/1471. Versi penjelasnya juga dapat dibaca dalam Tafsir Al-Qurthubi, 13/271).
Dalam kegalauan itu, Umar mengadu kepada Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam tentang sikap kedua Sahabat tersebut. Maka Rasulullah menuntun Umar agar selalu berpikir positif sehingga bisa menjalani hidup dengan legowo. Rasulullah bahkan berdoa, "Semoga Allah akan menentukan pasangan bagi Hafshah, yang jauh lebih dari Utsman; serta menentukan pasangan bagi Utsman, yang jauh lebih baik dari Hafshah."
Ternyata, tak lama setelah itu, Rasulllah menikahkan Utsman dengan puteri beliau sendiri. Dan setelah itu, beliau pun menikahi Hafshah. Allahumma Innî qad ballaghtu, fasyhad…!






KESIMPULAN
Beberapa Pelajaran yang dapat diambil dari makalah ini:
1.      Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan kita untuk senantiasa memikirkan, mementingkan dan mengerjakan hal-hal yang bermanfaat saja. Jangan pikirkan sesuatu yang tidak berguna. Jangan pentingkan sesuatu yang tidak penting. Jangan kerjakan sesuatu yang tidak mendatangkan manfaat. Ini adalah doktrin cara berpikir positif (At-Tafkir Al-Ijabi/Positif Thingking). Lihat Surah Al-Mu’minun (23) Ayat: 3.
2.      Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan kita untuk bersungguh-sungguh dalam mengerjakan kebaikan. Ini adalah perintah untuk membangun sifat rajin, agar kita tidak terbiasa menunda-nunda pekerjaan yang bisa diselesaikan pada waktunya, dan agar kita tidak membiarkan benih-benih kemalasan dalam diri kita tumbuh berkembang. Sikap sungguh-sungguh dan serius dalam pekerjaan akan mewujudkan profesionalisme dan produktifitas yang tinggi. Dan sesungguhnya penyebab utama kelambanan pengembangan kepribadian kita, lebih disebabkan oleh karena sifat malas yang kita sadari ataupun tidak kita sadari. Solusinya ialah: Paksa Diri (yang tidak membahayakan diri).
3.      Meminta Bantuan Allah (Al-Isti’anah Billah) adalah kiat “oper bola” kepada Yang Maha Kuasa. Kiat ini akan selalu menyelamatkan dari sikap putus asa dan kecemasan yang berlebihan. Kekuatan do’a yang diyakini oleh seorang mu’min mujahid akan senantiasa memberi harapan dan kekuatan batin yang luar biasa dalam menghadapi tantangan apapun, sehingga ia terhindar dari perasaan-perasaan negatif, dan pikiran-pikiran negatif (Negatif Thingking).
4.       Larangan untuk mengandai-andai terhadap sesuatu yang telah berlalu, adalah penegasan yang kesekian kalinya dalam satu hadits yang mulia ini terhadap pentingnya, bahkan wajibnya cara berpikir positif! Tinggalkan penyesalan yang mengundang cara berpikir yang negatif. Ketahuilah bahwa syetan senantiasa mencari peluang dan kesempatan untuk mempengaruhi jiwa dan pikiran kita. Jangan beri peluang kepadanya untuk bekerja dalam diri kita.

Ilmu Pendidikan Islam


ILMU PENDIDIKAN ISLAM

I. PENDAHULUAN
            Berbicara mengenai Pendidikan Islam merupakan kalimat yang tidak asing lagi bagi kita. Terdapat dua suku kata, dimana kata tersebut mempunyai penafsiran yang luas, yakni kata Pendidikan dan Islam.
            Pendidikan mempunyai hubungan yang sangat erat dengan islam. Keduanya memiliki fungsi yang saling menguatkan satu sama lain. Pendidikan mempunyai fungsi sebagai alat untuk tujuan islam. Dan islam memberikan landasan untuk mengembangkan berbagai sumber pemikiran tentang pendidikan yang berlandaskan Al-Qur’an dan Al-Hadits.
            Oleh karena itu, agar lebih mengenal dan lebih paham tentang pendidikan islam, alangkah baiknya kita pelajari terlebih dahulu , apa itu pendidikan dan apa itu islam.

II. PENDIDIKAN
            Pendidikan menurut kamus Besar Bahasa Indonesia memberikan pengertian yakni: Pendidikan dari segi bahasa,  berasal dari kata dasar didik dan diberi awalan men menjadi mendidik, yaitu kata kerja yang artinya memelihara dan memberi latihan. Pendidikan sebagai kata benda berarti proses perubahan sikap dan tingkah laku seseorang atau kelompok orang dalam rangka mendewasakan manusia melalui metode pengajaran dan latihan.
            Para ahli banyak sekali yang  menafsirkan kata pendidikan, meskipun bayak batasan-batasan yang di kemukakan oleh para ahli tetapi kita bisa menyimpulkan dari sekian banyak penafsiran yang ada bahwasanya pendidikan merupakan usaha pngembangan kualitas manusia. Jadi pendidikan adalah suatu proses aktifitas yang disengaja untuk mendewaskan serta mengoptimalkan potensi yang dimiliki oleh manusia dengan melibatkan berbagai faktor yang berkaitan antara yang satu dengan yang yang lainya.
            Dari keteranan diatas, sangat jelas bahwa pendidikan mempunyai peranan yang sangat penting bagi kita. Mengapa demikian…? Karena pendidikan sangat mempengaruhi terhadap pekembangan kepribadian kita. Dan kalau kita melihat salah satu definisi pendidikan ada yang memberikan penertian bahwa pendidikan adalah proses memanusiskan manusia. Artinya setiap manusia bisa menjadi manusia yang bermanfaat adan  berguna  bagi orang lain.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              
III. ISLAM
            Kata Islam secara etimologi berasal dari kata                                   
berarti selamat,                     berarti tangga,                                           berarati berserah diri atau tunduk.Secara terminology islam berarti wahyu yang di turunkan melalui malaikat jibril kepada nabi Muhammad untuk disampaikan kepada uatnya agar hidup bahagia di dunia dan akhirat. Kata islam banyak sekali terdapat di dalam al-qur’an yang mempunyai penafsiran yang sangat banyak, salah satunya surat Al-Imran 19



“Sesungguhnya islam itu adalah agama (jalan hidup) yang benar di sisi Allah”
Ayat diatas menunjukkan kepada kita bahwa jalan hidup kita terdaat di dalam ajaran islam.
            Agama islam mempunyai dasar hukum yang dijadikan pedoman bagi umatnya, yakni Al-Qur’an dan Al-hadits. Ke-duanya ini dijadikan landasan yang utama dalam menghadapi segala permasalahan yang ada didalam masyarakat dan di sekeliling nya.
            Al-Qur’an sebagai sumber utama dan yang paling utama dalam ajaran islam merupakan wahyu yang di sampaikan oleh malaikat jibril kepada nabi Muhammad SaW mengajarkan dan mengajak manusia untuk selalu menggunakan akal dan pikirannya untuk memikirkan  semua ciptaan Allah SWT dan dapat mengambil hikmah dari apa yang terdapat darinya. Mengap demikian?... Karena didalam Al-Qur’an menjawab semua apa yang kita butuhkan, Diterangkan dalam ayat:



“Dan tidaklah ynag kami luputkan(tinggalkan) didalm al-kitab(Al-Qir’an) sesuatu appun. (QS. Al-An’am 38).
Ayat diatas dapat kita pahami bahwa segala sesuatu apapapun yang menjadi pokok-pokok kehidupan manusia terdapat di dalam al-Qur’an. Artinya Al-Qur.an sebagai dasar bagi manusia untuk hidup didunia dan akhirat.
            Secara umum isi kandungan Al_Qur’ansebagai berikut;
  • Pokok-pokok keyakinan yang melahirkan ilmu kalam/teologi
  • Pokok-pokok hokum yang melahirkan ilmu hokum/syariah/ilmu fiqih
  • Pokok-pokok ibadah kepada Allah
  • Pokok-pokok akidah
  • Petunjuk tentang kebesaran Allah yang melahirkan ilmu pengetahuan
  • Petunjuk mengenai hubungan golongan kaya dan miskin
  • Sejarah Nabi dan umat terdaahulu.
            Pada sisi yang lain, Hadits adalah sumber pokok ajan islam ke-2 setelah Al-Qur’an yagn merupakan penafsiran dari Qur’an yang diwujudkan dari pribadi Nabi Muhammad SaW baik perkataan, perbuatan, ketetapan maupun isyarat sebagai aktualisasi ajaran islam yang dijalnkan dalam kehidupansehari-hari. Oleh karena itu hadit menjadi salah satu sumber landasan agama islam.
IV. PENDIDIKAN ISLAM
Pendidikan Islam yaitu bimbingan jasmani dan rohani menuju terbentuk kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam. Dengan pengertian lain Pendidikan Islam merupakan suatu bentuk kepribadian utama yakni kepribadian muslim. kepribadian yang memiliki nilai-nilai agama Islam memilih dan memutuskan serta berbuat berdasarkan nilai-nilai Islam dan bertanggung jawab sesuai degan nilai-nilai Islam. Pendidikan Islam merupakan pendidikan yang bertujuan membentuk individu menjadi makhluk yang bercorak diri berderajat tinggi menurut ukuran Allah dan visi pendidikan adalah mewujudkan tujuan ajaran Allah.   
Sedangkan tujuan pendidikan islam dapat dirumuskan sebagai berikut :
  • Untuk membentuk akhlakul karimah.
  • Membantu peserta didik dalam mengembangkan kognisi afeksi dan psikomotori guna memahami menghayati dan mengamalkan ajaran islam sebagai pedoman hidup sekaligus sebagai kontrol terhadap pola fikir pola laku dan sikap mental.
  • Membantu peserta didik mencapai kesejahteraan lahir batin dangan membentuk mereka menjadi manusia beriman bertaqwa berakhlak mulia memiliki pengetahuan dan keterampilan berkepribadian integratif mandiri dan menyadari sepenuh peranan dan tanggung jawab diri di muka bumi ini sebagai abdulloh dan kholifatulloh.
V. KESIMPULAN
            Dari keterangan diatas, kita dapat merumuskan secara singkat , mengapa kita hrus berbicara tentang pendidikan islam karena pendidikan islam  mampu mengarahkan dan membimbing kita melalui proses pendidikan sehinga menjadi orang dewasa yang berkepribadian muslim yang taqwa, berilmu pengetahuan dan berguna bagi dirinya sendiri,masyarakat,bangsa dan Negara, melihat bahwasanya pendidikan merupakan suatu proses pendewasaan manusia dan islam mempunyai dasar Al-Qur’an dan Hadits yang kandungannya mencakup seluruh dari apa yang kita butuhkan agar menjadi insan kamil bahagia dunia dan akhirat. Keduanya juga saling berhubungan erat. Pendidikan sebagai alat untuk mencapai tujuan islam, dan islam memberikan landasan untuk mengembangkan berbagai sumber pemikiran tentang ilmu pendidikan.

cinta dalam pendidikan



 KEHADIRAN CINTA DALAM PENDIDIKAN
Sebuah kata yang tidak asing lagi bagi semua kalangan manusia, yang sangat sulit di jelaskan dalam bentuk kalimat yakni kata “cinta”. manusia   mempelajari tatacara berinteraksi, moral, persahabatan dan kerjasama, bersikap ramah dan keahlian berbuat baik serta mengasihi orang lain, dalam hal ini secara tidak langsung, ia mempelajari cinta. Dengan cinta manusia dapat mengerjakan apapun yang mereka inginkan, karana cinta dapat membuat segala pekerjaan menjadi ringan, karena ketika tumbuh rasa cinta, maka rasa iklas akan mendampinginya.
Agama, aliran kepercayaan, nilai-nilai moral dan kebangsaan, serta keyakinan-keyakinan budaya mengajarkan bahwa seluruh manusia dilahirkan dengan fitrah Ilahi yang suci. Akan tetapi, kondisi masyarakat dan pengaruh-pengaruh keluarga, sosial, budaya, moral dan politik dapat merubah fitrah dan kondisi batin yang suci ini. Hal inilah yang menyebabkan cinta. Lalu bagaimana sebuah cinta dapat diaplikasikan dengan pendidikan?. Perlukah peran cinta didalamnya?. Sebelum itu, alangkah baikanya mengetahui cinta dan pendidikan terlebih dahulu.
A.     Cinta Kata Mereka
Ibnu Hazm al-Andalusi yang dikutip oleh Dr. Nazmi Khalil Abu Al-Atha mengatakan  bahwa  setiap orang yang jatuh cinta, ketika hubungan cintanya kandas di tengah jalan, baik karena perpisahan , putus cinta, atau dengan menyembunyikan perasaan cinta yang sebenarnya, maka ia akan menderita, bahkan hal itu dapat membuatnya depresi.(Dr. Nazmi Khalil Abu Al-Atha:2007:13).
Ibnu Qayyim seperti yang dikutip oleh Dr. Nazmi Khalil Abu Al-Atha mengatakan  cinta merupakan sendi kehidupan hati dan makanan pokok jiwa. Hati tidak akan merasakan kelezatan, kenikmatan, kebahagiaan dan kehidupan tanpa cinta di dalamnya. Apabila hati telah kehilangan cinta, maka penderitaaya serasa lebih sakit daripada derita yang dialami oleh mata saat kehilangan cahayanya, hidung dikala kehilangan penciumanya, dan lisan ketika kehilangan suaranya. Bahkan hati, ketika di dalamnya hampa akan cinta terhadap sang Pencipta, sakitnya akan lebih dahsyat daripada rusaknya tubuh karena sakit jiwa. Perkataan ini sulit untuk dipercaya kebenaranya , kecuali bagi orang yang hidup hatinya.(Dr. Nazmi Khalil Abu Al-Atha:2007:17).
Menurut kiamus bahasa Indonesia karya W.J.S. Poerwadarminta, cinta adalah rasa sangat suka (kepada) atau (rasa) saying (kepada), atauppun (rasa) sangat kasih atau sangat tertarik hatinya. (Widyo Nugroho, 1994,55)
Banyak sekali yang mengartikan tentang kata cinta. Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa cinta adalah sebuah aksi/kegiatan aktif yang dilakukan manusia terhadap objek lain, berupa pengorbanan diri, empati, perhatian, memberikan kasih sayang, membantu, menuruti perkataan, mengikuti, patuh, dan mau melakukan apapun yang diinginkan objek tersebut. Cinta dipengaruhi oleh pengaruh-pengaruh sosial yang bermacam-macam, jika pengaruh-pengaruh ini positif maka cinta akan langgeng dan bertahan lama, jika tidak maka ia akan kehilangan efek-efek keberadaannya. Begitu hebatnya, dengan cinta bisa melakukan apapun yang di inginkan.  Lalu bagaimana kaitanya dengan sebuah pendidikan?. Tetapi sebelum itu, akan dibahas endidikan telebih dahulu.
B.     Apa Itu Pendidikan
Kamus Bahasa Indonesia, 1991:232, Pendidikan berasal dari kata “didik”, Lalu kata ini mendapat awalan kata “me” sehingga menjadi “mendidik” artinya memelihara dan memberi latihan.  Pendidikan sebagai kata benda berarti proses perubahan sikap dan tingkah laku seseorang atau kelompok orang dalam rangka mendewasakan manusia melalui metode pengajaran dan latihan. Dalam memelihara dan memberi latihan diperlukan adanya ajaran, tuntutan dan pimpinan mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran.
Menurut UU No.20 tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional, Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara
Para ahli pendidikan berbeda-beda dalam menafsirkan pendidikan, seperti yang dikemukakan oleh Drs.H Abu Ahmadi dan Drs. Nur Uhbiyati dalam bukunya Ilmu Pendidikan, 2001 adalah sebagai berikut:
1.      John Dewey
Pendidikan adalah proses pembentukan kecakapan-kecakapan fundamental secara intelektual dan emosional kearah alam dan sesama manusia.
2.      Lange veld
Mendidik adalah mempengaruhi  anak dalam usaha membimbingnya supaya menjadi dewasa. Usaha membimbing adalah usaha yang disadari dan dilaksanakan secara sengaja antara orang dewasa dan anak atau yang belum sengaja.
3.      Hoogeveld
Mendidik adalah membantu anak supaya cukup cakap menjalankan tugas hidupnya atas tanggung jawabnya sendiri.
4.      SA. Bratanata dkk.
Pendidikan adalah usaha yang  sengaja diadakan baik langsung maupun dengan cara tidak langsung untuk membantu anak dalam perkembanganya mencapai kedewasaan.
5.      Rousseau
Pendidikan adalah memberi kita pembekalan yang tidak ada pada masa anak-anak, akan tetapi kita membutuhkanya pada waktu dewasa.
6.      Ki Hajar Dewantara
Mendidik adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai kemaslahatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.
7.      GBHN
Pendidikan adalah usaha sadar untuk mengembangakan kepribadian dan kemampuan di dalam dan di luar sekolah dan berlangsung seumur hidup.
Ahmad D.Marimba dalam menafsirkan pendidikan menitik beratkan pada aspek serta luang lingkup dalam pendidikan seperti yang di kutip oleh Drs. H. Mahmud, M.Si dan Tedi Priatna, M.Ag  dengan bukunya Pemikiran Pendidikan Islam  mengatakan , pendidikan adalahbimbingan atau pimpinan secara sadar oleh pendidik terhadap- perkembngan jasmani dan ruhani terdidik menuju menuju terbentuknya kepribadian utama.
Dalam menafsirkan pendidikan, para ahli mempunyai batasan-batasan yang di kemukakan, akan tetapi kita bisa menyimpulkan dari sekian banyak penafsiran yang ada bahwasanya pendidikan merupakan usaha pengembangan kualitas manusia. Jadi pendidikan adalah suatu proses aktifitas yang disengaja untuk mendewaskan serta mengoptimalkan potensi yang dimiliki oleh manusia dengan melibatkan berbagai faktor yang berkaitan antara yang satu dengan yang lainya sehingga mengahasilkan suatu kebahagiaan yang setinggi-tingginya.
            Dari keteranan diatas, sangat jelas bahwa pendidikan mempunyai peranan yang sangat penting bagi manusia. Mengapa demikian…? Karena pendidikan sangat mempengaruhi terhadap pekembangan kepribadian manusia. Dan kalau  melihat salah satu definisi pendidikan ada yang memberikan pengertian bahwa pendidikan adalah proses memanusiakan manusia. Artinya setiap manusia bisa menjadi manusia yang bermanfaat dan  berguna  bagi orang lain.
C.     Cinta Dalam Proses Pendidikan
Mendidik memerlukan seni yang cakap dalam prosesnya. Proses yang dilakukan setiap pendidik dalam mendidik anak berbeda-beda. Lalu seni yang seperti apakah yang harus digunakan atau diimplementasikan untuk mereka, sehingga mereka mampu mengaplikasikan apa yang mereka dapatkan dalam proses pendidikan?...Seni yang  penuh cinta jawabanya
Perasaan cinta guru terhadap seluruh peserta didiknya merupakan hal yang amat penting dan dianggap sebagai alat utama dalam pendidikan. Mendidik dan cinta merupakan dua hal yang saling bersinergi dalam membentuk kepribadian yang indah. Hakikat cinta adalah memberi. Cinta mampu memberi apa yang diperlukan oleh anak didik . agar tumbuh menjadi lebih baik dan tercapainmya tujuan pembelajaran dalam proses belajar mengajar. Dengan pribadi penuh dengan cinta diharapkan mampu mereduksi Sesuatu yang tidak diinginkan ( sakit hati, marah) yang timbul akibat kenakalan-kenakalan anak didik. Denganya pula pendidik mampu belajar bersabar, meneguhkan hati, melindungi serta belajar menjadi pribadi yang matang , agara cinta ,yang dipancarakan adalah  cinta yang sempurna. agar tumbuh menjadi lebih baik dan tercapainmya tujuan pembelajaran dalam proses belajar mengajar.
Ketika cinta sudah menjadi nafas dalam mendidik, maka teknik dan atau metode penunjang yang digunakan dalam proses kegiatan belajar mengajarpun akan lebih mudah dilakukan. Selain itu juga pengetahuan-pengetahuan yang dapat menunjang dan meningkatkan kualitas sebagai pendidik terus diupayakan. Hal yang menjadi tragis ketika para pendidik senantiasa disibukkan dan dituntut untuk menguasai bahan ajar, teknik, metode dan teknologi pembelajaran tertentu, tetapi mereka justru melupakan pentingnya rasa cinta terhadap peserta didik. Penguasaan bahan ajar dan metode dan teknologi pembelajaran oleh guru memang penting, tetapi jika proses pendidikan harus melupakan aspek cinta sebagai alat utamanya maka pendidikan akan terasa menjadi kering, hampa dan kehilangan ruhnya. Oleh karena itu cinta sangat diperlukan dalam pendidikan karena melalui proses pendidikan yang didasari rasa cinta, pada akhirnya selain dapat mengantarkan seseorang memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang tinggi, juga diharapkan dapat dijadikan contoh kepada peserta didik untuk mengenal dan memiliki rasa cinta, sehingga mereka dapat tumbuh dan berkembang menjadi sosok manusia yang penuh kecintaan, baik terhadap dirinya, sesama dan Tuhan. Yang terpenting lagi adalah tercapainya tujuan pendidikan.
Daftar Pustaka
1.      Mahmud, dan Priatna Tedi 2005. Pemikir Pendidikan Islam. Bandung: Sahifa.
2.      Nogroho Widyo, dan Achmad Muchji 1994. Ilmu Budaya Dasar. Jakarta: Gunadarma
3.      Ahmadi Abu, dan Nur Uhbiyati 2001. Ilmu Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
4.      Faisal 2008.Ikhlas, Sulitkah?. Solo: Aqwam.
5.      Al-Atha Nazhmi Khalil Abu 2007. Menebar Cinta Menuai Surga. Klaten: Wafa.
6. http://images.psikologiuinjkt2004.multiply.multiplycontent.com/attachment/0/Ru@qpwoKCkUAACd7vw81/Mahabbah.doc?key=psikologiuinjkt2004:journal:5&nmid=58377143