Aktivitas Berfikir Seorang Muslim
Manusia dibekali pikiran dan perasaan
agar senantiasa berfikir positif (husnudzan) dengan otaknya dan mengisi
perasaannya dengan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Seringkali manusia
terjebak dengan pemikiran-pemikiran negatif dengan banyaknya berprasangka buruk
antar manusia bahkan prasangka buruk terhadap Allah SWT Naudzubillah.
Agar manusia dapat merasakan
kebahagiaan kehidupan di dunia dan akhirat maka diharuskan mengisi qalbunya
dengan beriman dan bertakwa kepada Allah SWT. Selain itu manusia juga
diharuskan berfikir positif dengan otaknya agar kehidupannya menjadi lebih
produktif.
Berfikir
positif dan berperasaan positif merupakan kebutuhan manusia agar dirinya dapat
merasakan kenikmatan yang dikaruniakan oleh Allah SWT. Makalah ini akan
mengupas tentang aktivitas berpikir seorang muslim. Semoga bermanfaat.
Ø
Hadits Pilihan Tentang Cara
Berpikir Positif
عَنْ
أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : المُؤْمِنُ الْقَوِيُّ
خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ، وَفِيْ كُلٍّ خَيْرٌ
اِحْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللهِ، وَلاَ تَعْجَزْوَإِنْ
أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلاَ تَقُلْ : لَوْ أَنِّيْ فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا،
وَلَكِنْ قُلْ : " قَدَّرَ اللهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَ "، فَإِنَّ "
لَوْ " تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ (أَخْرَجَهُ الإِمَامُ مُسْلِم 8/ 56 )
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu beliau
mengatakan: Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: “Orang beriman
yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah dari- pada orang mu’min yang
lemah. Dan masing-masing punya kebaikan. Bersungguh-sungguhlah dalam segala hal
yang bermanfaat bagimu. Mintalah bantuan kepada Allah dan jangan merasa lemah
(pesimis) dan jika kamu mendapat satu musibah (kesulitan), jangan
berkata: “sekiranya saya melakukan ini, maka akan terjadi seperti ini “Tapi
katakanlah: “Sesungguhnya Allah telah menentukan (keputusan-Nya) dan Dia melakukan
apa yang Dia kehendaki “. Oleh karena ucapan “sekiranya”
itu membuka peluang kerja bagi syetan “Hadits Shahih Diriwayatkan oleh Imam
Muslim: 8/56
Berpikir adalah pekerjaan kita sehari-hari.
Namun sayangnya, kebanyakan manusia hanya menggunakan sedikit sekali potensi berpikir.
Padahal berpikir adalah kunci menuju sukses dan kebahagiaan. Bahkan,
masih banyak orang yang belum mengerti proses berpikir tersebut. Dalam Al
Quran, ada banyak kata yang kita artikan berpikir. Mengapa banyak? Karena
memang masing-masing memiliki makna dan proses yang berbeda. Sejauh mana kita
mengetahui cara berpikir? Jika caranya saja kita belum mengerti, bagaimana kita
bisa melakukannya? Dan, kenapa harus report memikirkan tentang berpikir?
Berpikir adalah menghadirkan dua pengetahuan untuk
mendapatkan pengetahuan ketiga. Disebut tafakkur karena dalam semua
proses itu menggunakan dan menghadirkan pikiran. Namun, berpikir tidak hanya
disebut dengan istilah tafakur saja, masih ada istilah lain yang perlu kita fahami
masing-masing agar kita mampu berpikir lebih baik dan memberikan manfaat
sebesar-besarnya bagi kita.
·
Berfikir disebut tadzakkur karena menghadirkan ilmu
yang harus diingat-ingat setelah terlupa dan hilang.
·
Disebut nadhor karena melihat dengan mata hati
pada hal yang dipikirkan.
·
Adapun disebut ta’ammul karena mengulang-ulang
pikiran sampai terlihat jelas dan terbuka bagi hatinya.
·
Sementara itu, disebut i’tibar (wazan ifti’al dari
kata ‘ubur yang berarti menyeberangi) karena dia menyeberang dari suatu hal ke
hal yang lain; dia menyeberang dari hal yang dipikirkannya menuju ke
pengetahuan ketiga. Yang disebut dengan pengetahuan ketiga ini adalah
tujuan dalam i’tibar itu.
·
Oleh karenanya, hal itu pun disebut sebagai ‘ibrah.
Kata Ibrah mengikuti wazan isim haal seperti kata jalsah, rikbah dan qitlah.
Ini untuk menunjukkan bahwa ilmu dan pengetahuan telah menjadi haal (karakter)
bagi pemiliknya.
·
Disebut tadabbur karena merupakan perenungan
tentang akibat dan akhir suatu perkara.Jadi, arti mentadaburi suatu kalimat
adalah memikirkannya dari bagian awal sampai akhir, kemudian mengulang-ulangi
perenungannya. Oleh karena itu, bentuknya mengikuti wazan tafaa’ul, seperti
tajarru’, tafahhum, dan tabayyun.
·
Dan disebut istibshar, wazan istif’al dari kata
tabasshur yang berarti jelas dan tersingkapnya sesuatu hal di depan bashirah
(mata hati).
Baik tadzakkur maupun tafakkur punya faedah
masing-masing. Tadzakkur berarti hati mengulang-ulang apa yang diketahuinya agar
tertanam dengan kuat di dalamnya, sehingga tidak terhapus dan pudar dari
dalam hati secara keseluruhan. Adapun tafakur berarti memperbanyak ilmu dan
mencari apa yang belum ada di hati. Jadi tafakur itu gunanya mencari ilmu dan
tadzakkur berguna untuk menjaganya.
Jadi, tafakkur dan tadzakkur adalah benih ilmu. Saling
bertanya adalah siramannya, dan mudzakarah adalah pembuahannya.
Kebaikan dan kebahagiaan itu tersimpan di dalam sebuah
gudang, kuncinya adalah tafakkur. Jadi harus ada tafakkur dan ilmu.
Apabila dari proses itu kemudian hati memperoleh ilmu, maka setiap orang yang
melakukan suatu hal yang baik atau buruk pasti ada satu kondisi di hatinya yang
terwarnai oleh ilmunya. Kondisi itu melahirkan iradah (kehendak), dan iradah
melahirkan amal.
Sampai di sini ada lima hal:
1. berpikir,
2. buahnya, yaitu ilmu,
3. buah dari keduanya, yaitu keadaan
yang terwujud bagi hati,
4. buah yang ditimbulkannya, yaitu iradah,
dan
5. buah iradah, yaitu amal.
Dengan demikian, ilmu adalah titik permulaan dan kunci
segala kebaikan.
Hal ini tentu membuktikan keutamaan dan kemuliaan tafakkur.
Hal itu juga membuktikan bahwa tafakkur tergolong amal hati yang paling utama
dan paling bermanfaat bagi hati itu sendiri; sampai dikatakan, “Tafakkur sesaat
lebih baik dari ibadah setahun.” Hanya berpikir yang dapat mengubah seseorang
dari matinya kecerdasan kepada hidupnya kesadaran, dari kebencian kepada cinta,
dari rakus dan tamak menjadi zuhud dan qana’ah, dari penjara dunia ke cakrawala
akhirat, dari sempitnya kebodohan ke lapangnya ilmu, dari penyakit syahwat dan
cinta kehidupan fana ini ke sehatnya taobat kepada Allah dan mengesampingkan
dunia, dari musibah buta, tuli, dan bisu ke nikmat melihat, mendengar, dan
paham tentang Allah. Juga dari penyakit-penyakit syubhat (keraguan) ke sejuknya
keyakinan dan tenteramnya dada.
Jika pun hidup kita berjalan tidak sesuai
dengan yang kita harapkan. Yakinlah hari-hari kemudian akan lebih baik dari
hari-hari sekarang dan hari-hari yang telah lalu.
وَلَلْآخِرَةُ
خَيْرٌ لَكَ مِنَ الْأُولَىٰ
“Dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih
baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan)”
Berprasangka baiklah Allah SWT akan
memberikan karunia dan rahmat yang besar di hari-hari esok, dan jangan berputus
asa!
اِنَّ اللهَ
يُحِبُّ الْفَأَلَ و يَكْرَهُ التَّسَاؤُم
“Sesungguhnya Allah mencintai sikap optimis dan membenci sikap putus
asa” (Hadits)
Kalaupun sepanjang hidup kita di dunia
selalu dalam kesulitan dan kesempitan, kita tetap berpikir positif bahwa
kelimpahan dan kenikmatan akan Allah berikan kepada kita di Hari Akhirat. Maka
orang yang bisa berpikir positif seperti itu, tetap tersenyum bahagia dalam
menjalankan kehidupan sulitnya di dunia.
وَلَسَوْفَ
يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَىٰ
“Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan
karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas”
Optimis dan yakin berjumpa Allah di hari
Akhir nanti dan mendapatkan limpahan karunia-Nya yang tak terkira, sungguh akan
memuaskan hati kita. Karunia Allah kepada penduduk dunia seperti air menetes
dari jari yang dicelupkan ke lautan, dibandingkan karunia Allah di hari Akhirat
yang seluas lautan itu sendiri.
Bagaimana agar kita selalu berpikir positif?
Ingatlah semua nikmat-nikmat Allah yang jika kita hitung tentu tidak akan
sanggup.
أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَآوَىٰ, وَوَجَدَكَ ضَالًّا فَهَدَىٰ, وَوَجَدَكَ
عَائِلًا فَأَغْنَى
“Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang
yatim, lalu Dia melindungimu? Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung,
lalu Dia memberikan petunjuk? Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang
kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan?”
Ø
BERFIKIR POSITIF
Pertanyaan yang sangat mendasar adalah:
mengapa Islam sampai menekankan pentingnya khusnudzdzan dan berpikir positif?
Paling tidak, ada empat alasan yang bisa dikemukakan di sini.
Pertama, kita harus khusnudzdzan dan
berpikir positif karena ternyata orang lain seringkali tidak seburuk yang kita
kira. Contoh terbaik mengenai hal ini ialah kisah Nabi Khidhir dan Nabi Musa Alaihima
As-Salam. Suatu kali, Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan Nabi Musa untuk
menambah ilmu dari seseorang yang sedang berdiri di tepi pantai yang
mempertemukan dua arus laut.
Setelah mencari tempat yang dimaksud, di
situ beliau menemukan Nabi Khidhir, dan kemudian mengutarakan maksudnya. Nabi
Khidhir mau menerima dengan satu syarat; Nabi Musa tidak boleh grasa-grusu bertanya
sampai Nabi Khidhir menjelaskan.
"Tapi aku yakin, kamu tidak akan bisa
bersabar", tambah Nabi Khidhir lagi. Namun karena Nabi Musa bersikeras,
akhirnya dimulailah perjalanan beliau berdua berdasarkan syarat tadi. Ternyata
benar!!
Ketika dalam perjalanan itu Nabi Khidhir
melakonkan hikmah demi hikmah yang telah diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa
Ta'ala, tak sekalipun Nabi Musa mampu bersabar untuk tidak grasa-grusu menafsirkan
yang bukan-bukan. (Qs. Al-Kahfi: 60-82).
Dalam kisah Qur'ani ini, poin penting yang
dapat dipetik: kita harus selalu berbaik sangka dan berpikir positif terhadap
orang lain. Karena, bisa jadi, orang lain tidaklah seburuk yang kita kira.
Sebab kita hanya bisa melihat apa yang tampak, namun tidak tahu niat baik apa
yang ada di hatinya…dan seterusnya.
Kedua, berbaik sangka dan berpikir positif
dapat mengubah suatu keburukan menjadi kebaikan. Kita dapat menemukan
pembuktiannya dalam teladan Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam, ketika
seluruh kafilah- afilah Arab berkumpul di Makkah pada tahun-tahun pertama turunnya
wahyu. Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan Rasulullah untuk menyampaikan
risalah Islam kepada semua kafilah itu. Namun yang terjadi, mereka justru
mencaci dan menyakiti Rasulullah, serta melumuri wajah beliau dengan pasir.
Saat itu, datanglah malaikat ke hadapan
Rasulullah, "Wahai Muhammad, (dengan perlakuan mereka ini) sudah sepantasnya
jika kamu berdoa kepada Allah agar membinasakan mereka seperti doa Nuh a.s atas
kaumnya." \Rasulullah segera mengangkat tangan beliau.
Tetapi yang terucap dalam doa beliau
bukanlah doa kutukan, melainkan untaian maaf dan harapan bagi orang-orang yang
telah menyakitinya, "Ya Allah, berilah petunjuk kepada kaumku. Sesungguhnya
(mereka melakukan semua ini terhadapku) hanya karena mereka tidak tahu. Ya
Allah, tolonglah aku agar mereka bisa menyambut ajakan untuk taat
kepada-Mu." ("Al-Ahadits Al-Mukhtarah, karya Abu `Abdillah
Al-Maqdasi, 10/14).
Pilihan beliau ternyata tidak salah. Tak
lama setelah peristiwa tersebut, mereka yang pernah menyakiti beliau berangsur-angsur
memeluk Islam dan menjadi Sahabat yang paling setia. Ini sesuai dengan ajaran
Al-Qur'an, "Tanggapilah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka
tiba-tiba orang yang antaramu dengan dia ada permusuhan seolah-olah telah
menjadi teman yang sangat akrab." (Qs. Al-Fushilat: 34)
Ketiga, berbaik sangka dan berpikir positif
dapat menyelamatkan hati dan hidup kita. Sebab hati yang bersih adalah hati
yang tidak menyimpan kebencian. Hati yang tenteram adalah hati yang tidak memendam
syakwasangka dan apriori terhadap orang lain. Dan hati yang berseri-seri
hanyalah hati yang selalu berpikir positif bagi dirinya maupun orang lain.
Kebencian, berburuk sangka dan berpikir
negatif hanya akan meracuni hati kita. Sebab itulah, ketika Orang-orang Yahudi
mengumpat Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam yang sedang duduk santai bersama
Aisyah Radhiyallahu `Anha, dan Aisyah terpancing dengan balas menyumpahi
mereka; Rasulullah segera Mengingatkan Aisyah, "Kamu tidak perlu begitu,
karena sesungguhnya Allah menyukai kesantunan dan kelemah-lembutan dalam segala
hal." (Riwayat Al- Bukhari dan Muslim, dari Aisyah Ra.). Subhanallah!!
Beliau yang seorang utusan Allah dan pemimpin masyarakat muslim, yang sebenarnya
bisa dengan mudah membalas perlakuan Orang-orang Yahudi itu, ternyata memilih
untuk tetap santun dan berpikir positif agar menjadi teladan bagi seluruh umat
manusia.
Senada dengan hadits di atas, ada ungkapan
yang sangat menggugah dari seorang sufi: "Yang paling penting adalah
bagaimana kita selalu baik kepada semua orang. Kalau kemudian ada orang yang
tidak baik kepada kita, itu bukan urusan kita, tapi urusan orang itu dengan Allah
Subhanahu wa Ta'ala."
Keempat, berpikir positif bisa membuat hidup
kita lebih legowo, karena toh Allah Subhanahu wa Ta'ala seringkali menyiapkan
rencana- rencana yang mengejutkan bagi hambaNya. Suatu saat, Umar bin Khaththab
Radhiyallahu `Anhu dirundung kegalauan yang menyesakkan. Salah seorang puteri
beliau, Hafshah Radhiyallahu `Anha, baru saja menjanda. Maka Umar datang
menemui Abu Bakar menawarinya agar mau menikahi Hafshah. Ternyata Abu Bakar
menolak. Kemudian Umar menawari Utsman bin Affan Radhiyallahu `Anhu untuk menikahi
Hafshah, namun Utsman pun menolaknya. (Shahih Al-Bukhari, 4/1471. Versi
penjelasnya juga dapat dibaca dalam Tafsir Al-Qurthubi, 13/271).
Dalam kegalauan itu, Umar mengadu kepada
Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam tentang sikap kedua Sahabat tersebut. Maka
Rasulullah menuntun Umar agar selalu berpikir positif sehingga bisa menjalani
hidup dengan legowo. Rasulullah bahkan berdoa, "Semoga Allah akan
menentukan pasangan bagi Hafshah, yang jauh lebih dari Utsman; serta menentukan
pasangan bagi Utsman, yang jauh lebih baik dari Hafshah."
Ternyata, tak lama setelah itu, Rasulllah
menikahkan Utsman dengan puteri beliau sendiri. Dan setelah itu, beliau pun
menikahi Hafshah. Allahumma Innî qad ballaghtu, fasyhad…!
KESIMPULAN
Beberapa Pelajaran yang dapat diambil dari makalah ini:
1.
Rasulullah Shallallahu Alaihi
wa Sallam memerintahkan kita untuk senantiasa memikirkan, mementingkan dan
mengerjakan hal-hal yang bermanfaat saja. Jangan pikirkan sesuatu yang tidak
berguna. Jangan pentingkan sesuatu yang tidak penting. Jangan kerjakan sesuatu
yang tidak mendatangkan manfaat. Ini adalah doktrin cara berpikir positif
(At-Tafkir Al-Ijabi/Positif Thingking). Lihat Surah Al-Mu’minun (23) Ayat: 3.
2.
Rasulullah Shallallahu Alaihi
wa Sallam memerintahkan kita untuk bersungguh-sungguh dalam mengerjakan
kebaikan. Ini adalah perintah untuk membangun sifat rajin, agar kita tidak
terbiasa menunda-nunda pekerjaan yang bisa diselesaikan pada waktunya, dan agar
kita tidak membiarkan benih-benih kemalasan dalam diri kita tumbuh berkembang.
Sikap sungguh-sungguh dan serius dalam pekerjaan akan mewujudkan
profesionalisme dan produktifitas yang tinggi. Dan sesungguhnya penyebab utama
kelambanan pengembangan kepribadian kita, lebih disebabkan oleh karena sifat
malas yang kita sadari ataupun tidak kita sadari. Solusinya ialah: Paksa Diri
(yang tidak membahayakan diri).
3.
Meminta Bantuan Allah
(Al-Isti’anah Billah) adalah kiat “oper bola” kepada Yang Maha Kuasa. Kiat ini
akan selalu menyelamatkan dari sikap putus asa dan kecemasan yang berlebihan.
Kekuatan do’a yang diyakini oleh seorang mu’min mujahid akan senantiasa memberi
harapan dan kekuatan batin yang luar biasa dalam menghadapi tantangan apapun,
sehingga ia terhindar dari perasaan-perasaan negatif, dan pikiran-pikiran
negatif (Negatif Thingking).
4.
Larangan untuk mengandai-andai terhadap
sesuatu yang telah berlalu, adalah penegasan yang kesekian kalinya dalam satu
hadits yang mulia ini terhadap pentingnya, bahkan wajibnya cara berpikir
positif! Tinggalkan penyesalan yang mengundang cara berpikir yang negatif. Ketahuilah
bahwa syetan senantiasa mencari peluang dan kesempatan untuk mempengaruhi jiwa
dan pikiran kita. Jangan beri peluang kepadanya untuk bekerja dalam diri kita.











