Sabtu, 10 November 2012

cinta dalam pendidikan



 KEHADIRAN CINTA DALAM PENDIDIKAN
Sebuah kata yang tidak asing lagi bagi semua kalangan manusia, yang sangat sulit di jelaskan dalam bentuk kalimat yakni kata “cinta”. manusia   mempelajari tatacara berinteraksi, moral, persahabatan dan kerjasama, bersikap ramah dan keahlian berbuat baik serta mengasihi orang lain, dalam hal ini secara tidak langsung, ia mempelajari cinta. Dengan cinta manusia dapat mengerjakan apapun yang mereka inginkan, karana cinta dapat membuat segala pekerjaan menjadi ringan, karena ketika tumbuh rasa cinta, maka rasa iklas akan mendampinginya.
Agama, aliran kepercayaan, nilai-nilai moral dan kebangsaan, serta keyakinan-keyakinan budaya mengajarkan bahwa seluruh manusia dilahirkan dengan fitrah Ilahi yang suci. Akan tetapi, kondisi masyarakat dan pengaruh-pengaruh keluarga, sosial, budaya, moral dan politik dapat merubah fitrah dan kondisi batin yang suci ini. Hal inilah yang menyebabkan cinta. Lalu bagaimana sebuah cinta dapat diaplikasikan dengan pendidikan?. Perlukah peran cinta didalamnya?. Sebelum itu, alangkah baikanya mengetahui cinta dan pendidikan terlebih dahulu.
A.     Cinta Kata Mereka
Ibnu Hazm al-Andalusi yang dikutip oleh Dr. Nazmi Khalil Abu Al-Atha mengatakan  bahwa  setiap orang yang jatuh cinta, ketika hubungan cintanya kandas di tengah jalan, baik karena perpisahan , putus cinta, atau dengan menyembunyikan perasaan cinta yang sebenarnya, maka ia akan menderita, bahkan hal itu dapat membuatnya depresi.(Dr. Nazmi Khalil Abu Al-Atha:2007:13).
Ibnu Qayyim seperti yang dikutip oleh Dr. Nazmi Khalil Abu Al-Atha mengatakan  cinta merupakan sendi kehidupan hati dan makanan pokok jiwa. Hati tidak akan merasakan kelezatan, kenikmatan, kebahagiaan dan kehidupan tanpa cinta di dalamnya. Apabila hati telah kehilangan cinta, maka penderitaaya serasa lebih sakit daripada derita yang dialami oleh mata saat kehilangan cahayanya, hidung dikala kehilangan penciumanya, dan lisan ketika kehilangan suaranya. Bahkan hati, ketika di dalamnya hampa akan cinta terhadap sang Pencipta, sakitnya akan lebih dahsyat daripada rusaknya tubuh karena sakit jiwa. Perkataan ini sulit untuk dipercaya kebenaranya , kecuali bagi orang yang hidup hatinya.(Dr. Nazmi Khalil Abu Al-Atha:2007:17).
Menurut kiamus bahasa Indonesia karya W.J.S. Poerwadarminta, cinta adalah rasa sangat suka (kepada) atau (rasa) saying (kepada), atauppun (rasa) sangat kasih atau sangat tertarik hatinya. (Widyo Nugroho, 1994,55)
Banyak sekali yang mengartikan tentang kata cinta. Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa cinta adalah sebuah aksi/kegiatan aktif yang dilakukan manusia terhadap objek lain, berupa pengorbanan diri, empati, perhatian, memberikan kasih sayang, membantu, menuruti perkataan, mengikuti, patuh, dan mau melakukan apapun yang diinginkan objek tersebut. Cinta dipengaruhi oleh pengaruh-pengaruh sosial yang bermacam-macam, jika pengaruh-pengaruh ini positif maka cinta akan langgeng dan bertahan lama, jika tidak maka ia akan kehilangan efek-efek keberadaannya. Begitu hebatnya, dengan cinta bisa melakukan apapun yang di inginkan.  Lalu bagaimana kaitanya dengan sebuah pendidikan?. Tetapi sebelum itu, akan dibahas endidikan telebih dahulu.
B.     Apa Itu Pendidikan
Kamus Bahasa Indonesia, 1991:232, Pendidikan berasal dari kata “didik”, Lalu kata ini mendapat awalan kata “me” sehingga menjadi “mendidik” artinya memelihara dan memberi latihan.  Pendidikan sebagai kata benda berarti proses perubahan sikap dan tingkah laku seseorang atau kelompok orang dalam rangka mendewasakan manusia melalui metode pengajaran dan latihan. Dalam memelihara dan memberi latihan diperlukan adanya ajaran, tuntutan dan pimpinan mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran.
Menurut UU No.20 tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional, Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara
Para ahli pendidikan berbeda-beda dalam menafsirkan pendidikan, seperti yang dikemukakan oleh Drs.H Abu Ahmadi dan Drs. Nur Uhbiyati dalam bukunya Ilmu Pendidikan, 2001 adalah sebagai berikut:
1.      John Dewey
Pendidikan adalah proses pembentukan kecakapan-kecakapan fundamental secara intelektual dan emosional kearah alam dan sesama manusia.
2.      Lange veld
Mendidik adalah mempengaruhi  anak dalam usaha membimbingnya supaya menjadi dewasa. Usaha membimbing adalah usaha yang disadari dan dilaksanakan secara sengaja antara orang dewasa dan anak atau yang belum sengaja.
3.      Hoogeveld
Mendidik adalah membantu anak supaya cukup cakap menjalankan tugas hidupnya atas tanggung jawabnya sendiri.
4.      SA. Bratanata dkk.
Pendidikan adalah usaha yang  sengaja diadakan baik langsung maupun dengan cara tidak langsung untuk membantu anak dalam perkembanganya mencapai kedewasaan.
5.      Rousseau
Pendidikan adalah memberi kita pembekalan yang tidak ada pada masa anak-anak, akan tetapi kita membutuhkanya pada waktu dewasa.
6.      Ki Hajar Dewantara
Mendidik adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai kemaslahatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.
7.      GBHN
Pendidikan adalah usaha sadar untuk mengembangakan kepribadian dan kemampuan di dalam dan di luar sekolah dan berlangsung seumur hidup.
Ahmad D.Marimba dalam menafsirkan pendidikan menitik beratkan pada aspek serta luang lingkup dalam pendidikan seperti yang di kutip oleh Drs. H. Mahmud, M.Si dan Tedi Priatna, M.Ag  dengan bukunya Pemikiran Pendidikan Islam  mengatakan , pendidikan adalahbimbingan atau pimpinan secara sadar oleh pendidik terhadap- perkembngan jasmani dan ruhani terdidik menuju menuju terbentuknya kepribadian utama.
Dalam menafsirkan pendidikan, para ahli mempunyai batasan-batasan yang di kemukakan, akan tetapi kita bisa menyimpulkan dari sekian banyak penafsiran yang ada bahwasanya pendidikan merupakan usaha pengembangan kualitas manusia. Jadi pendidikan adalah suatu proses aktifitas yang disengaja untuk mendewaskan serta mengoptimalkan potensi yang dimiliki oleh manusia dengan melibatkan berbagai faktor yang berkaitan antara yang satu dengan yang lainya sehingga mengahasilkan suatu kebahagiaan yang setinggi-tingginya.
            Dari keteranan diatas, sangat jelas bahwa pendidikan mempunyai peranan yang sangat penting bagi manusia. Mengapa demikian…? Karena pendidikan sangat mempengaruhi terhadap pekembangan kepribadian manusia. Dan kalau  melihat salah satu definisi pendidikan ada yang memberikan pengertian bahwa pendidikan adalah proses memanusiakan manusia. Artinya setiap manusia bisa menjadi manusia yang bermanfaat dan  berguna  bagi orang lain.
C.     Cinta Dalam Proses Pendidikan
Mendidik memerlukan seni yang cakap dalam prosesnya. Proses yang dilakukan setiap pendidik dalam mendidik anak berbeda-beda. Lalu seni yang seperti apakah yang harus digunakan atau diimplementasikan untuk mereka, sehingga mereka mampu mengaplikasikan apa yang mereka dapatkan dalam proses pendidikan?...Seni yang  penuh cinta jawabanya
Perasaan cinta guru terhadap seluruh peserta didiknya merupakan hal yang amat penting dan dianggap sebagai alat utama dalam pendidikan. Mendidik dan cinta merupakan dua hal yang saling bersinergi dalam membentuk kepribadian yang indah. Hakikat cinta adalah memberi. Cinta mampu memberi apa yang diperlukan oleh anak didik . agar tumbuh menjadi lebih baik dan tercapainmya tujuan pembelajaran dalam proses belajar mengajar. Dengan pribadi penuh dengan cinta diharapkan mampu mereduksi Sesuatu yang tidak diinginkan ( sakit hati, marah) yang timbul akibat kenakalan-kenakalan anak didik. Denganya pula pendidik mampu belajar bersabar, meneguhkan hati, melindungi serta belajar menjadi pribadi yang matang , agara cinta ,yang dipancarakan adalah  cinta yang sempurna. agar tumbuh menjadi lebih baik dan tercapainmya tujuan pembelajaran dalam proses belajar mengajar.
Ketika cinta sudah menjadi nafas dalam mendidik, maka teknik dan atau metode penunjang yang digunakan dalam proses kegiatan belajar mengajarpun akan lebih mudah dilakukan. Selain itu juga pengetahuan-pengetahuan yang dapat menunjang dan meningkatkan kualitas sebagai pendidik terus diupayakan. Hal yang menjadi tragis ketika para pendidik senantiasa disibukkan dan dituntut untuk menguasai bahan ajar, teknik, metode dan teknologi pembelajaran tertentu, tetapi mereka justru melupakan pentingnya rasa cinta terhadap peserta didik. Penguasaan bahan ajar dan metode dan teknologi pembelajaran oleh guru memang penting, tetapi jika proses pendidikan harus melupakan aspek cinta sebagai alat utamanya maka pendidikan akan terasa menjadi kering, hampa dan kehilangan ruhnya. Oleh karena itu cinta sangat diperlukan dalam pendidikan karena melalui proses pendidikan yang didasari rasa cinta, pada akhirnya selain dapat mengantarkan seseorang memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang tinggi, juga diharapkan dapat dijadikan contoh kepada peserta didik untuk mengenal dan memiliki rasa cinta, sehingga mereka dapat tumbuh dan berkembang menjadi sosok manusia yang penuh kecintaan, baik terhadap dirinya, sesama dan Tuhan. Yang terpenting lagi adalah tercapainya tujuan pendidikan.
Daftar Pustaka
1.      Mahmud, dan Priatna Tedi 2005. Pemikir Pendidikan Islam. Bandung: Sahifa.
2.      Nogroho Widyo, dan Achmad Muchji 1994. Ilmu Budaya Dasar. Jakarta: Gunadarma
3.      Ahmadi Abu, dan Nur Uhbiyati 2001. Ilmu Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
4.      Faisal 2008.Ikhlas, Sulitkah?. Solo: Aqwam.
5.      Al-Atha Nazhmi Khalil Abu 2007. Menebar Cinta Menuai Surga. Klaten: Wafa.
6. http://images.psikologiuinjkt2004.multiply.multiplycontent.com/attachment/0/Ru@qpwoKCkUAACd7vw81/Mahabbah.doc?key=psikologiuinjkt2004:journal:5&nmid=58377143

0 komentar:

Posting Komentar