KEHADIRAN CINTA DALAM
PENDIDIKAN
Sebuah
kata yang tidak asing lagi bagi semua kalangan manusia, yang sangat sulit di
jelaskan dalam bentuk kalimat yakni kata “cinta”. manusia
mempelajari tatacara berinteraksi, moral, persahabatan dan kerjasama,
bersikap ramah dan keahlian berbuat baik serta mengasihi orang lain, dalam hal
ini secara tidak langsung, ia mempelajari cinta. Dengan cinta manusia dapat
mengerjakan apapun yang mereka inginkan, karana cinta dapat membuat segala
pekerjaan menjadi ringan, karena ketika tumbuh rasa cinta, maka rasa iklas akan
mendampinginya.
Agama, aliran kepercayaan, nilai-nilai moral dan kebangsaan, serta
keyakinan-keyakinan budaya mengajarkan bahwa seluruh manusia dilahirkan dengan
fitrah Ilahi yang suci. Akan tetapi, kondisi masyarakat dan pengaruh-pengaruh
keluarga, sosial, budaya, moral dan politik dapat merubah fitrah dan kondisi
batin yang suci ini. Hal inilah yang menyebabkan cinta.
Lalu bagaimana sebuah cinta dapat diaplikasikan dengan pendidikan?. Perlukah
peran cinta didalamnya?. Sebelum itu, alangkah baikanya mengetahui cinta dan
pendidikan terlebih dahulu.
A.
Cinta
Kata Mereka
Ibnu Hazm al-Andalusi yang dikutip oleh
Dr. Nazmi Khalil Abu Al-Atha mengatakan
bahwa setiap orang yang jatuh
cinta, ketika hubungan cintanya kandas di tengah jalan, baik karena perpisahan
, putus cinta, atau dengan menyembunyikan perasaan cinta yang sebenarnya, maka
ia akan menderita, bahkan hal itu dapat membuatnya depresi.(Dr. Nazmi Khalil
Abu Al-Atha:2007:13).
Ibnu Qayyim seperti yang dikutip oleh
Dr. Nazmi Khalil Abu Al-Atha mengatakan
cinta merupakan sendi kehidupan hati dan makanan pokok jiwa. Hati tidak
akan merasakan kelezatan, kenikmatan, kebahagiaan dan kehidupan tanpa cinta di
dalamnya. Apabila hati telah kehilangan cinta, maka penderitaaya serasa lebih
sakit daripada derita yang dialami oleh mata saat kehilangan cahayanya, hidung
dikala kehilangan penciumanya, dan lisan ketika kehilangan suaranya. Bahkan
hati, ketika di dalamnya hampa akan cinta terhadap sang Pencipta, sakitnya akan
lebih dahsyat daripada rusaknya tubuh karena sakit jiwa. Perkataan ini sulit
untuk dipercaya kebenaranya , kecuali bagi orang yang hidup hatinya.(Dr. Nazmi
Khalil Abu Al-Atha:2007:17).
Menurut kiamus bahasa Indonesia karya
W.J.S. Poerwadarminta, cinta adalah rasa sangat suka (kepada) atau (rasa)
saying (kepada), atauppun (rasa) sangat kasih atau sangat tertarik hatinya. (Widyo
Nugroho, 1994,55)
Banyak sekali
yang mengartikan tentang kata cinta. Dari pengertian diatas dapat disimpulkan
bahwa cinta adalah sebuah aksi/kegiatan aktif yang dilakukan manusia terhadap
objek lain, berupa pengorbanan diri, empati, perhatian, memberikan kasih
sayang, membantu, menuruti perkataan, mengikuti, patuh, dan mau melakukan
apapun yang diinginkan objek tersebut. Cinta dipengaruhi oleh pengaruh-pengaruh
sosial yang bermacam-macam, jika pengaruh-pengaruh ini positif maka cinta akan
langgeng dan bertahan lama, jika tidak maka ia akan kehilangan efek-efek
keberadaannya. Begitu hebatnya, dengan cinta bisa melakukan apapun yang di
inginkan. Lalu bagaimana kaitanya dengan
sebuah pendidikan?. Tetapi sebelum itu, akan dibahas endidikan telebih dahulu.
B.
Apa
Itu Pendidikan
Kamus Bahasa Indonesia, 1991:232,
Pendidikan berasal dari kata “didik”, Lalu kata ini mendapat awalan
kata “me” sehingga menjadi “mendidik” artinya memelihara dan
memberi latihan. Pendidikan sebagai kata
benda berarti proses perubahan sikap dan tingkah laku seseorang atau kelompok
orang dalam rangka mendewasakan manusia melalui metode pengajaran dan latihan.
Dalam memelihara dan memberi latihan diperlukan adanya ajaran, tuntutan dan
pimpinan mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran.
Menurut UU No.20 tahun 2003
tentang sistem Pendidikan Nasional, Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana
untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik
secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan,
pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan
yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara
Para ahli pendidikan berbeda-beda
dalam menafsirkan pendidikan, seperti yang dikemukakan oleh Drs.H Abu Ahmadi dan
Drs. Nur Uhbiyati dalam bukunya Ilmu Pendidikan, 2001 adalah sebagai berikut:
1. John
Dewey
Pendidikan adalah proses pembentukan
kecakapan-kecakapan fundamental secara intelektual dan emosional kearah alam
dan sesama manusia.
2. Lange
veld
Mendidik adalah mempengaruhi anak dalam usaha membimbingnya supaya menjadi
dewasa. Usaha membimbing adalah usaha yang disadari dan dilaksanakan secara
sengaja antara orang dewasa dan anak atau yang belum sengaja.
3. Hoogeveld
Mendidik adalah membantu anak supaya
cukup cakap menjalankan tugas hidupnya atas tanggung jawabnya sendiri.
4. SA.
Bratanata dkk.
Pendidikan adalah usaha yang sengaja diadakan baik langsung maupun dengan
cara tidak langsung untuk membantu anak dalam perkembanganya mencapai
kedewasaan.
5. Rousseau
Pendidikan adalah memberi kita
pembekalan yang tidak ada pada masa anak-anak, akan tetapi kita membutuhkanya
pada waktu dewasa.
6. Ki
Hajar Dewantara
Mendidik adalah menuntun segala kekuatan
kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota
masyarakat dapat mencapai kemaslahatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.
7. GBHN
Pendidikan adalah usaha sadar untuk
mengembangakan kepribadian dan kemampuan di dalam dan di luar sekolah dan
berlangsung seumur hidup.
Ahmad D.Marimba dalam menafsirkan
pendidikan menitik beratkan pada aspek serta luang lingkup dalam pendidikan
seperti yang di kutip oleh Drs. H. Mahmud, M.Si dan Tedi Priatna, M.Ag dengan bukunya Pemikiran Pendidikan
Islam mengatakan , pendidikan
adalahbimbingan atau pimpinan secara sadar oleh pendidik terhadap- perkembngan
jasmani dan ruhani terdidik menuju menuju terbentuknya kepribadian utama.
Dalam menafsirkan pendidikan, para
ahli mempunyai batasan-batasan yang di kemukakan, akan tetapi kita bisa
menyimpulkan dari sekian banyak penafsiran yang ada bahwasanya pendidikan
merupakan usaha pengembangan kualitas manusia. Jadi pendidikan adalah suatu
proses aktifitas yang disengaja untuk mendewaskan serta mengoptimalkan potensi
yang dimiliki oleh manusia dengan melibatkan berbagai faktor yang berkaitan
antara yang satu dengan yang lainya sehingga mengahasilkan suatu kebahagiaan
yang setinggi-tingginya.
Dari
keteranan diatas, sangat jelas bahwa pendidikan mempunyai peranan yang sangat
penting bagi manusia. Mengapa demikian…? Karena pendidikan sangat mempengaruhi
terhadap pekembangan kepribadian manusia. Dan kalau melihat salah satu definisi pendidikan ada
yang memberikan pengertian bahwa pendidikan adalah proses memanusiakan manusia.
Artinya setiap manusia bisa menjadi manusia yang bermanfaat dan berguna
bagi orang lain.
C.
Cinta
Dalam Proses Pendidikan
Mendidik memerlukan seni yang cakap
dalam prosesnya. Proses yang dilakukan setiap pendidik dalam mendidik anak
berbeda-beda. Lalu seni yang seperti apakah yang harus digunakan atau
diimplementasikan untuk mereka, sehingga mereka mampu mengaplikasikan apa yang
mereka dapatkan dalam proses pendidikan?...Seni yang penuh cinta jawabanya
Perasaan cinta
guru terhadap seluruh peserta didiknya merupakan hal yang amat penting dan
dianggap sebagai alat utama dalam pendidikan. Mendidik dan cinta merupakan dua
hal yang saling bersinergi dalam membentuk kepribadian yang indah. Hakikat
cinta adalah memberi. Cinta mampu memberi apa yang diperlukan oleh anak didik .
agar tumbuh menjadi lebih baik dan tercapainmya tujuan pembelajaran dalam
proses belajar mengajar. Dengan pribadi penuh dengan cinta diharapkan mampu
mereduksi Sesuatu yang tidak diinginkan ( sakit hati, marah) yang timbul akibat
kenakalan-kenakalan anak didik. Denganya pula pendidik mampu belajar bersabar,
meneguhkan hati, melindungi serta belajar menjadi pribadi yang matang , agara
cinta ,yang dipancarakan adalah cinta
yang sempurna. agar tumbuh menjadi lebih baik dan tercapainmya tujuan
pembelajaran dalam proses belajar mengajar.
Ketika cinta
sudah menjadi nafas dalam mendidik, maka teknik dan atau metode penunjang yang
digunakan dalam proses kegiatan belajar mengajarpun akan lebih mudah dilakukan.
Selain itu juga pengetahuan-pengetahuan yang dapat menunjang dan meningkatkan
kualitas sebagai pendidik terus diupayakan.
Hal yang menjadi tragis ketika para pendidik senantiasa disibukkan dan
dituntut untuk menguasai bahan ajar, teknik, metode dan teknologi pembelajaran tertentu, tetapi
mereka justru melupakan pentingnya rasa cinta terhadap peserta didik.
Penguasaan bahan ajar dan metode dan teknologi pembelajaran oleh guru memang
penting, tetapi jika proses pendidikan harus melupakan aspek cinta sebagai alat
utamanya maka pendidikan akan terasa menjadi kering, hampa dan kehilangan ruhnya. Oleh
karena itu cinta sangat diperlukan dalam pendidikan karena melalui proses pendidikan yang didasari rasa cinta, pada akhirnya selain dapat
mengantarkan seseorang memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang tinggi,
juga diharapkan dapat dijadikan
contoh kepada peserta didik untuk mengenal dan memiliki rasa cinta,
sehingga mereka dapat tumbuh dan berkembang menjadi sosok manusia yang penuh
kecintaan, baik terhadap dirinya, sesama dan Tuhan. Yang terpenting lagi adalah tercapainya
tujuan pendidikan.
Daftar Pustaka
1. Mahmud, dan Priatna Tedi 2005. Pemikir Pendidikan Islam. Bandung:
Sahifa.
2. Nogroho Widyo, dan Achmad Muchji
1994. Ilmu Budaya Dasar. Jakarta:
Gunadarma
3. Ahmadi Abu, dan Nur Uhbiyati 2001. Ilmu Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
4. Faisal 2008.Ikhlas, Sulitkah?. Solo:
Aqwam.
5. Al-Atha Nazhmi Khalil Abu 2007. Menebar Cinta Menuai Surga. Klaten:
Wafa.
6. http://images.psikologiuinjkt2004.multiply.multiplycontent.com/attachment/0/Ru@qpwoKCkUAACd7vw81/Mahabbah.doc?key=psikologiuinjkt2004:journal:5&nmid=58377143






0 komentar:
Posting Komentar